Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Bokep SMA Ah bodoh. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ah. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Kaki disandarkan di dinding. Ia tidak lagi dingin dan ketus.Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Aku masih mematung. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Dari iramanya bukan sedang berjalan. Pijitan turun ke perut. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Yes.., akhirnya.




















